Love Makes You
Stupid (Part 1)
Kisah ini tentang dua kisah bodoh tentang cinta yang
terjadi hampir bersamaan.
Kisah pertama adalah kisahku. Kisah ini
dimulai ketika aku baru masuk kuiah. Pas masih jadi MABA, biasa lah, tengok
kanan kiri cari yang manis, dan akhirnya perahtianku jatuh pada seorang cewek. Kalo
diperhatiin sekilas ni cewek memang cantik, putih mulus, dan sexy, bisa
dibilang luarnya masuk banget tipe cewek yang aku cari (bidadari menurut masbro
frankie). Awalnya aku agak malas mau nyapa, apaladi PDKT. Mungkin karena persepsiku
yang beranggapan semua cewek yang luarnya bidadari pasti dalemannya lampir.
Atau sebaliknya, dalemannya bidadari tapi luarnya mpok ati. Kesimpulanku ini
kudapat ketika waktu SMA kemarin. Dalam kurun waktu 3 tahun tersebut, semua
cewek yang aku temui, masuk dua kategori tersebut. Meski begitu, aku gak pernah
patah semangat untuk nyari seseorang yang benar-benar luar dan dalemnya
bidadari.
Dalam pencarian tersebut, aku udah
banyak nyicipi pacaran ama dua tipe cewek diatas. Seringnya si yang tipe luar
bidadari daleman lampir, tipe yang sering membuat hidup melarat dan dompet
bokek. Tapi ada juga yang beberapa pacaran sama tipe satunya. Mngkin karena
udah males aja pacaran ama tipe 1, aku pengen nyoba pacaran ama yag tipe 2. Eh,
ternyata malah tambah parah. Mau mandangin gak selera, masang fotonya di HP
malah diketawain temen-temen, diajak jalan bukannya tambah seneng malah tambah
ngerusak mood, dan akhir-akhirya semua kandas pada kencan pertama.
Jujur hal itu membuatku frustasi. Disaat
semua lagi seneng-seneng sama ceweknya, aku masih aja sibuk mencari. Sampai
suatu ketika aku mulai putus asa dan nyerah nyari cewek yang katanya
temen-temen cuma ada dalam mimpi atau FTV. Bahkan sampai-sampai pengen pergi
jauh dari yang namanya cinta.
Tapi sekarang, dia benar-benar muncul di
depan mataku. Seorang cewek yang luarnya 80% bidadari dan dalemannya pun 20%
bidadari. Meski aku cuma menilainya 20% tapi yang penting kan masuk kategori
bidadari, pikirku. Nilai ini kudapat hanya dengan mengamati sikapnya dalam
waktu beberapa bulan, mungkin karena aku belum terlalu mengenal, jadi aku gak
mau menilai dia terlalu tinggi.
Lalu semua berubah ketika dia pertama
kali bicara padaku. Suaranya yang halus bak bidadari merasuk ke hati melalui
kedua telingaku. Malam harinya aku putuskan untuk SMS dia. Dengan alasan tugas,
aku berhasil mengenalnya lebih dekat, hal itu aku lakukan setiap malam. Tak
hanya lewat SMS, siang harinya di kampus, aku selalu mencari kesempatan untuk
bicara dengannya, yah meski cuma modal nekat yang akhirnya cuma beberapa kata
yang keluar. Hanya dalam beberapa Minggu, penilaianku padanya naik drastis.
Dari 20% menjadi 50%. Inipun karena aku tidak mau menilai dia terlalu tinggi.
Karena dapat respon positif proses PDKT
terus aku lanjutkan, tapi belum sampai tahap yang intens, cuma sebatas
basa-basi dan bertanya tugas. Sesekali aku berkeluh-kesah pada dia, diapun juga
sesekali bercerita tentang masalahnya padaku.
Sampai pada suatu ketika aku telfon
masbro frankie yang saat ini lagi kerja di Yogya. Dia curhat tentang kehidupan
barunya di Yogya. Biasanya si tentang cewek-cewek Yogya yang kata dia
“sip-sip”. Aku pun menceritakan masalah ni cewek padanya. Masbro menyuruhku
bertanya dia sudah ada yang punya apa belum, daripada akhirnya malah tambah
kecewa.
Tapi sebelum aku sempat bertanya, entah
kenapa tiba-tiba responnya padaku berubah. Mulai dari pesanku yang tak pernah
dibalas, lalu lama-kelamaan dia seperti menjauhiku di kampus. Setiap jam kuliah
habis, dia selalu pulang lebih awal seperti menyiratkan kalau dia tak mau
menemuiku. Awalnya si aku biasa saja, tapi lama-kelamaan hal ini menyiksaku.
Tiap kali aku berusaha menjauh atau melupakannya, rasa itu malah semakin besar
tumbuh.
Entah apa yang terajdi padaku. Biasanya
aku selalu mendahulukan akal sehat daripada kemauan hati. Jika otak sudah
berpikir tak mungkin, pasti aku selalu menurutinya. Tapi sekarang, entah kenapa
kemauan hatiku membesar sampai-sampai membuatku tak lagi bisa menggunakan akal
sehatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Comentnya Monggo